Aku Tidak Baik-baik Saja




Ada kalanya, bahkan sering aku merasa dalam keadaan yang bisa dibilang tidak baik-baik saja. Entah itu perasaan lelah, bosan, marah, terpuruk dan semua rasa yang sedang tidak dalam keadaan baik. Aku biasa akan melaluinya hanya dengan merenung, bermalas-malasan, scrolling medsos,nonton dan melakukan hal-hal yang kurang ada manfaatnya. Sampai di suatu titik kemarin, aku menemukan aku tapi bukan diriku.

Ya, aku bertingkah seperti bukan aku yang biasanya. Tidak lagi menganggap permasalahan sebagai tantangan, tidak lagi menganggap harapan sebagai batu loncatan menuju aku yang lebih baik. Kusambut awal tahun dengan perasaan lesu tapi menggebu. Enatahlah, aku sendiri masih bingung dengan diriku sendiri.

Banyak PR yang harus aku selesaikan, PR pada diriku sendiri, anak, tugas sekolah, mengajar, juga sebagai anggota lingkungan rumah. Aku selalu kewalahan dengan waktu, eh bukan ding. Aku yang masih belum bisa berdamai dengan waktu, mengelolanya seperti kebanyakan orang di luar sana yang selalu bisa memanage waktu dengan baik. Waktu luang masih ku gunakan untuk hal remeh temeh bagi orang lain tapi memang aku butuhkan. Yaitu istirahat. Aku hanya butuh istirahat yang cukup.

Tapi saat ku lirik lagi sebagian besar orang, mereka tidak benar-benar istirahat dengan cukup kok seperti apa yang kubayangkan. Masih banyak orang yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja melebihi keadaanku, melebihi apa yang aku rasakan kini. Dan perasaan itu hany membuatku merasa kurang bersyukur atas apa yang aku terima dan lalui setiap harinya. Ah, memang dasar aku saja yang masih kalah dengn waktu dan belum mau bernegosiasi dengannya. Dan lagi-lagi aku terpuruk, merasa tubuh yang lelah menjadi punca segala permasalahan batin. Tak jarang anak menjadi tempat pelampiasan paling empuk yang selalu sukses membuatku menyesal dan merasa menjadi ibu yang jahat.

Kalau sudah begitu, hanya menangis sendirian yang ku bisa. Menyesali segala yang sudah terlanjur terekam memori anak sampai ia dewasa nanti. Memohon maaf dan memberi pelukan karena memaksanya untuk mengerti perasaan ibu yang seharusnya lebih mengerti akan perasaannya. Aku dalam fase ini merasa sangat tidak baik-baik saja dan berada di titik terendah. Selalu berusaha dengan keras merubah, tapi masih belum menemukan titik lemah emosi yang merajai pikiran.

Mungkin ini adalah salah satu faktor dari LDR yang selama ini kujalani bersama suami. Aku merasa mulai lelah dengan keadaan yang memaksaku untuk terus mengerti dan bersabar. Sebenarnya bukan karena aku tak sabar dengan keadaan, aku hanya teramat rindu sosok yang bisa ku ajak berbagi rasa, berbagi waktu dengan tidak lagi melalui dunia maya. Aku teramat rindu sosok tempatku bersandar saat aku lelah dan terpuruk, sosok yang bisa menenangkan sekalipun hanya dengan tatapan hangatnya.

Aku tidak ingin kehilangan diriku yang dahulu hanya karena perasaan lelah ini. Aku ingin bangkit, untuk diriku, untuk anak yang merindukan sosok hangat seorang ibu. Dan ku putuskan tahun ini adalah tahun kebangkitan ku setelah hampir 2 tahun aku terombang-ambing pada perasaan yang campur aduk.

Aku akan baik-baik saja dan akan lebih baik lagi setiap harinya. Menghidupkan lagi apa yang terkubur dalam benak, lebih mengekspresikan diri lebih baik, dan menghargai setiap detik yang terlewati.

Aku adalah diriku. Jangan pernah kehilangannya 😍

#klip_day1
#klip_jauari
#klip_2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Why am I getting surgery? (Fen Liu)

Edamame Lada Hitam ala Taiwan

Sudut Baca Mini Project